Saya bukan terlahir dalam keluarga broken home, tidak tidak.. orang tua saya rukun rukun saja.
Tapi saya terlahir dalam keluarga yang broken heart, dimana hati yang rapuh ketika saya dan sodara2 yang lainnya sudah harus kehilangan figur seorang bapak, dan mamah yang harus merelakan suami sang pemberi nafkah satu satunya. Semua terjadi begitu cepat, secepat kamu mengedipkan mata, menarik dan menghembuskan napas, menjentikkan jari, dan huaallaa, kehidupan keluarga saya berputar ke bawah.
Saya tidak bisa menerima dengan ikhlas dan hati yang lapang, bahwa sosok bapak yang saya cintai sudah benar benar tidak akan pernah bisa lagi mencium kedua pipi ini. Kepedihan demi kepedihan Cuma bisa ditelan satu persatu dengan paksaan, seperti kamu meminum obat segede gaban yang pait dan harus diminum. Ketika pedih mulai menyayat selembar demi selembar daging, kemudian masuk ke jantung, menembuh masuk ke pembuluh darah, mengotori ginjal, meracuni otak, tanpa sadar seluruh tubuh ini sudah rusak karena pilu dan air mata yang keluar perlahan ketika saya menangis karena rindu akan hadirnya di atas bantal. Ketika indikator kesedihan sudah rusak, dan kami hanya bisa berteriak menyalahkan satu sama lain atas peristiwa peristiwa yang terjadi tanpa kendali. Ketika yang berbicara hanya tangan dan kaki serta bantuan dari kayu gagang sapu dan sula yang menyapa kulit lebih perih dari sindiran tajam lidah.
Tanpa disadari, kepedihan itu merubah saya menjadi manusia berkepribadian ganda, kepribadian di rumah yang dingin, acuh tak acuh, pemarah, dan kepribadian heboh di luar rumah. Namun buruknya, sifat di rumah terbawa ke lingkungan pergaualan membuat saya sulit mempunyai teman yang banyak. Perasaan tidak diterima disuatu lingkungan, rendah diri, tidak percaya diri, merasa sering digunjingkan dari belakang benar benar mengekor kemanapun saya pergi.
Ketika berjalan, saya mencoba menoleh kebelakang dan menemukan tapak tapak kaki hitam diatas tanah, yang saya ketahui itu bernama sejarah, dan yang saya temukan adalah seseorang perempuan yang mencari identitas dengan sifat cueknya yang alakazam, kurang peduli dengan keadaan sekitar, kurang rasa empati, dingin, tidak pernah fokus terhadap apapun, berpikiran sempit, dan hanya bisa diam tanpa berbuat apapun.
Di tahun 2011 ini, saya tau tugas saya amatlah banyak, dan saya memerlukan jalur yang tepat agar sifat sifat buruk saya ini bisa terkikis dan menipis. Dan saya memerlukan tangan tangan yang kuat yang bisa tetap menuntun saya tetap di jalur yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar